Mein Kampf

Nyampah Penuh Berkah

Reminder: Kenapa Antasari?

with 6 comments

Tentang yang gonjang-ganjing jelang Pemilu 2009

Memori pada bulan Mei, 2009. Ketika gonjang-ganjing Pemilu dengan segala prasangkanya menyeruak:

Syahdan, nama Antasari Azhar sedang memimpin puncak ”klasemen” berita ala infotainment. Dia disinyalir terlibat skandal “cinta segitiga” yang melibatkan Pak Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, perempuan cantik “waitress” lapangan golf yang namanya masih simpang siur, dan Nasruddin, yang berujung pada tewasnya nama terakhir, Maret lalu.

Ehm, kalau benar memang landasan ontologis pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjara (PRB) itu karena berebut wanita dengan Antasari, wah, bisa-bisa semua siaran berita reguler mengubah wujud secara swadaya jadi full infotainment. Bahkan berita perselingkuhan Golkar yang “mengkhianati” Partai Demokrat pun, zap, hilang bak kandas di palung. Kabar “pernikahan” Jusuf Kalla-Wiranto pun seperti tiupan singkat di kuping jagat yang langsung lenyap dalam sesaat. Pokoknya, Antasari yang paling top deh.

Memang hot berita itu. Selain ceritanya sendiri yang “menyeramkan”, tentang cinta segitiga berujung maut, yang bikin penikmat gossip tambah gayeng ya karena siapa-siapa saja yang terlibat. Ketua KPK versus Direktur salah satu BUMN. Wah, pejabat papan atas rebutan wanita sampai saling bunuh? Yummy, really fucking hot!

Tapi lama-lama, kok ada yang aneh ya dalam kasus ini? Apa Anda juga merasa begitu? Apa memang saya saja yang merasa aneh, karena saya terlalu sering berpikir aneh-aneh tentang segala sesuatu di dunia yang memang sudah sangat aneh ini?

Maksud saya, anehnya begini; masa bisa dua professional papan atas saling bunuh karena wanita? Apa di dunia ini cuma ada satu wanita cantik (kabarnya perempuan yang diperebutkan itu cantik, tapi entahlah secantik apa)? Sampai-sampai dua pria berpengaruh, yang dengan pengaruhnya bisa apa saja, mendapatkan wanita cantik segudang misalnya, saling bunuh dengan cara memanfaatkan bandit jalanan demi perempuan yang tak jelas bibit, bobot, dan bebetnya itu?

Katakanlah, kalau memang benar Nasrudin mangkel sama Antasari gara-gara wanitanya direbut, dan mengancam akan mem-blow up upaya penelikungan Antasari itu ke publik, dan itu membuat emosi Antasari kepancing karena bisa menghancurkan citranya, apakah sampai sebegitu nekatnya Pak Antasari ini?

Bukankah kalau memang rebutan wanita, mengingat kapabilitas keduanya yang jempolan (karena pertimbangan ini mereka sama-sama pegang peran penting di negara) apa tidak bisa diselesaikan baik-baik? Apalagi konon kedua orang itu paling guyub kalau sedang main golf. Kenapa juga tak diselesaikan dengan cara guyub rukun juga?

Aneh. Iya kalau yang rebutan cewek itu anak SMA, yang tak bisa berpikir panjang, jalan kekerasan biasanya yang dipilih. Tapi orang sekelas Antasari dan Nasrudin, masa mental dan cara pikir mereka sekelas mental ABG? Aneh.

Terlalu cemen kalau saya rasa. Terlalu mengada-ada alasan itu. Apalagi, menurut kabar yang saya tangkap, cara mengungkap siapa pembunuh Nasrudin itu gampang sekali. Menurut kabar yang saya terima dari sumber di Mabes Polri, pelaku pembunuhan yang katanya berdarah Timor Leste itu berhasil dilacak karena polisi berhasil melacak nomor pelat sepeda motor Yamaha Scorpio yang dikendarai pelaku pembunuhan, 29 Maret lalu.

Pembunuh professional, yang katanya dapat suplai duit dari Sigid Haryo Wibisono, bos Koran Merdeka, sebesar Rp2 miliar, melakukan kecerobohan yang luar biasa konyol, dengan memasang pelat nomor sepeda motor ketika beraksi? Aneh lagi.

Dulu, ketika masih jaga gawang sebagai wartawan kriminal, modus pembunuh bayaran ini sudah saya kenal banget. Kalau mereka beraksi dengan kendaraan bermotor, biasanya mereka mencopot pelat nomor kendaraan itu. Minimal dipalsukan lah. Itu adalah cara paling efektif untuk menghilangkan jejak. Karena, kalau pun ada saksi pembunuhan itu, mereka tak akan melihat nomor mesin kendaraan kan? Nomor mesin ini adalah bukti lain yang bisa digunakan untuk melacak siapa pengguna kendaraan itu, selain pelat nomor resmi kan. Kalau pelat resmi tak terlacak, pelaku bisa lenggang kangkung bebas, pembunuhan pun tidak (atau sulit) terungkap.

Tapi kenapa pembunuh seharga Rp2 miliar melakukan kecerobohan itu, dengan membiarkan pelat nomor resmi menempel, sehingga kendaraan itu dikenali dan pengendaranya terdeteksi? Aneh. Padahal pembunuh kelas Rp 200 ribuan pun tak melakukan kekonyolan itu. Tapi pembunuh senilai Rp 2 miliar melakukannya. Waduh, waduh…

Apa justru karena keprofesionalan para pembunuh itu, mereka dilibatkan dalam sebuah skenario besar? Maksudnya, mereka sengaja membunuh, naik motor dan memasang pelat nomor biar mudah dilacak dan tertangkap, dengan maksud untuk menjebak seseorang? Mungkinkah?

Wah, kalau itu yang terjadi, berarti seru. Saya jadi ingat bagian akhir Trilogi Godfather karya Mario Puzzo yang difilmkan sama Francis Coppolla itu. Ketika Don Altobeli meminjam tangan Joe Zsa Zsa untuk menghabisi don-don lain, termasuk biangnya don, Michael Corleone, biar jalannya berinvestasi di dunia hitam makin langgeng. Agar Altobeli selamat, dikesankanlah kalau aktor pembunuhan itu adalah Joe Zsa Zsa, yang kebetulan juga sedang terlibat konflik dengan keluarga Corleone. Hmmm…

Ada lagi yang tak kalah janggal. Kasus ini ditangani Mabes Polri. Karena perkara yang ditangani pembunuhan berencana. Dalam kasus-kasus seperti ini, ya yang jadi penanggung jawab polisi. Dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia, tak pernah ada jaksa menangani penyelidikan perkara 340 (maksudnya pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana). Karena untuk menghandle kasus ini, perlu uji laboratorium forensic. Polisi yang punya itu, kejaksaan tidak. Iya kalau kejahatan kerah putih atau sengketa perdata, jaksa yang menangani. Kalau model street crime seperti itu, ya tanggungan polisi.

Tapi dalam kasus Antasari ini, polisi belum berani mengangguk soal dugaan keterlibatan Antasari, eh, Kejaksaan Agung melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Jasman Pandjaitan, berani mengumumkan kalau Antasari Azhar jadi tersangka. Itu bersamaan dengan pengumuman cekal Bos KPK itu. Dan nama Antasari Azhar disebut lugas, blak-blakan, seolah-olah dia sudah dijatuhi setengah vonis. Kok polisi dilangkahi? What’s up doc?

Adakah skenario di balik infotainment Antasari ini? Wallahualam kalau memang benar ada itu sih. Saya sebagai orang awam, jurnalis rendahan, tak bisa serampangan menyimpulkannya. Itu urusan Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri. Bukan urusan saya.

Yang jelas, saat ini, yang namanya mega koalisi yang bercerita soal asmara instant Golkar dan PDIP sama sekali sudah tak terdengar. Kalau pun ada, paling tipis-tipis, kalah maut sama skandal Antasari. Dan tahu-tahu PAN, yang katanya nyaris oke mau gabung sama mega koalisi, eh, tiba-tiba sowan ke partai pemenang pemilu dan jadi sekutu.

Apa ada hubungan antara mega hot gossip Antasari dengan berita koalisi yang kian menipis itu, silahkan simpulkan saja sendiri. Dan apakah kasus Antasari ini sengaja diembuskan ketika dia hendak mengajak para punggawanya menyelisik dugaan korupsi pengadaan IT di KPU, yang menyebabkan validitas data pemilih atau hasil penghitungan suara jadi abu-abu, embuh, saya tak tahu.

Yang jelas, saat ini saya cuma jadi penyimak infotainment itu saja, yang menikmati informasi itu sambil terheran-heran dan bertanya-tanya; kenapa Antasari? Sudah, itu saja. (*)

New Image

Iklan

Written by Tofik Pram

Februari 28, 2013 pada 8:26 am

Ditulis dalam Asal Ngomong

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ini pre-quel bukumu ya mas?

    johanesjonaz

    Februari 28, 2013 at 9:03 am

  2. […] kesederhanaan seperti ini pulalah tulisan-tulisan sederhana dalam blog ini, dan tiga buku; Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu, Hugo Chavez: Malaikat dari Selatan, dan Rekam Jejak Mun’im Idries: Forensik Itu Lucu (segera […]

  3. […] dari buku yang pernah saya tulis bareng rekan-rekan saya sesama wartawan pada 2009 lalu; Antasari dan Kisah Pembunuhan Menjelang Pemilu. Tapi, dalam sekuel ini, saya menulis sendiri, karena hanya saya yang punya banyak waktu […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: